Kisah inspirasi dari seorang broker properti.

Semoga dalam keadaan sehat dan bahagia penuh dengan berkah di sore hari ini seperti saya, amin… Tergelitik pengen banget segera buat artikel ini setelah jalan-jalan dengan teman sekaligus client yang sudah menjadi seorang speculator muda. Di mobil dalam perjalanan saya dan Mr. B sharing-sharing banyak tentang properti termasuk suka duka saya dalam menjalankan bisnis agen properti. Secara kebetulan saya menceritakan pengalaman pahit yang baru saja saya alami 1 hari yang lalu yaitu saat saya harus segera overview lokasi properti yang akan ditawarkan kepada calon purchaser saya. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya sebelum saya ajukan sebuah properti kepada calon purchaser saya fix/substantial kan dulu information properti tersebut dan untuk case ini saya kebetulan bekerjasama dengan salah 1 orang yang mengaku sebagai Broker Independen tapi setelah kejadian ini akhinya saya sebut saja sebagai Broker Tradisional (BT) karena cara kerjanya yang tradisional/kurang profesional.

bisnis asuransi

Singkat cerita, di awal pertemuan saya dengan seorang specialist tradisional (BT) ini (sebut saja namanya X) yang mengaku berhubungan langsung dengan proprietor properti tanpa melalui merchant lain. Saya tanya ttg duplicate sertifikat dan information datanya secara kebetulan dapat terjawab dengan cepat, saya merasa sangat senang. Tapi keadaan berubah ketika saya mulai melakukan overview lokasi, dari petunjuk yang ada sudah mulai saya mencium ada kejanggalan. Kejanggalan pertama adalah petunjuk yang diberikan tidak tepat moniker salah posisi dan di lapangan saya menemukan posisi lain yang tidak sesuai petunjuk tapi kalo saya bandingkan di foto adalah properti yang sama. Disekitar lokasi saya sempat nongkrong dan ngobrol-ngobrol dengan penduduk sekitar, dari nongkrong itulah saya mendapat banyak informasi termasuk informasi bahwa lokasi tersebut telah terjual. Kesimpulan pertama adalah DATA YANG TIDAK VALID.

Akhirnya saya kembali ke rumah dengan tangan kosong dengan memperoleh rasa kecewa dan kemudian saya infokan ke teman saya si Broker Tradisional tersebut, entah dia kelepasan atau tidak tiba-tiba di bbm dia bilang “teman saya mau telp”. Nah lo… !!! Apa maksudnya ini?? Saya secara spontan langsung bertanya.. “lah katanya berhubungan langsung dengan proprietor”, blm sempat di jawab ternyata ada telp masuk. Dan ternyata yang telp saya adalah teman si dealer independen tadi… setelah ngobrol panjang lebar ternyata dia juga intermediary lagi… dan masih ada agent lagi… baru kemudian proprietor. Oalaaahhh… . kalo begitu si bukan representative independen namanya tapi Broker Tradisional moniker BT yang cara kerjanya kayak anak mau tawuran aja… . hadeeuuhhh… ampun dah!!! Sudah menghindari yang model begini masih kebentur juga sama yang model begini.

Ternyata cerita saya ini direspon oleh Mr. B (calon purchaser) dengan tertawa ngakak terpingkal-pingkal di mobil dan dia play on words langsung menceritakan pengalamannya yang cukup menggelikan juga dan baru kali ini saya denger ada kejadian seperti itu setelah hampir 9 tahun menggeluti dunia agen properti. Begini Mr. B menceritakannya… “kalo kejadian yang saya alami lebih konyol lagi, saya sering ditawarin properti sama agent tapi ternyata properti itu milik saya sendiri” spontan saja saya ketawa ngakak juga… oaalaahhh… . intermediary… dealer… . yah itulah sekilas kelakuan BROKER TRADISIONAL beda dengan Agen/Broker Properti Resmi maupun Independen (eks Agen Resmi).

Apa si bedanya? Merchant TRADISIONAL (BT) lahir kedunia properti secara prematur, biasanya mereka pertama terjun karena ikut-ikutan temannya transaksi atau coba-coba ikut temannya yang lebih dulu jadi agent lalu kemudian ketagihan mengingat komisinya yang cukup lumayan. Sedangkan Agen/Broker Properti resmi/independen (eks Agen Resmi) lahir ke dunia properti melalui sebuah compositions yang bisa dibilang cukup panjang dan selektif. Pertama-tama sudah pasti diseleksi melalui persyaratan administratif layaknya orang kerja serta minatnya, yang lolos biasanya adalah orang-orang yang memang berminat di bidang penjualan khususnya properti. Setelah mereka diterima biasanya mereka akan menjalani uji coba selama 1-3 bulan sebelum mengikuti preparing resmi yang diadakan oleh kantor brokernya. Setelah dianggap lolos dan layak baru kemudian diikutkan untuk mengikuti preparing resmi skala nasional/worldwide yang biasanya diadakan selama 3 hari berturut-turut dari pagi sampai sore dengan mengikuti ujian tertulis di hari terakhir. Begitu panjang compositions yang dilalui sehingga Agen/Broker Properti resmi maupun independen yang konsisten cenderung jauh sekali cara kerjanya dengan BT. Tapi bukan berarti semua BT tidak bisa bekerja secara profesional, BT yang profesional juga ada hanya pada kenyataannya lebih banyak yang tidak profesional. Banyak juga Agen Properti Resmi yang akhirnya leave dari kantor brokernya dan akhirnya menjadi agen independen profesional.

Perbedaan latarbelakang bekal, jam terbang dan kemampuan tersebut lah yang membedakan cara kerja masing-masing intermediary. Agen Properti Resmi/Independen yang lahir dari sebuah kantor intermediary sudah pasti dicetak untuk dipersiapkan menghadapi berbagai macam tipe dan karakter client yang biasanya juga mengandalkan situs jual belir rumah dalam mempromosikan properti yang ia jual. Sedangkan Broker Tradisional (BT) tidak melalui expositions tersebut. Secara psikologis dan mental sudah pasti akan terlihat perbedaannya terutama dalam menghadapi dan mengolah konsumen. Barangkali Anda yang membaca artikel ini pernah merasakan menggunakan kedua jenis tipe Agen/Broker seperti yang saya ceritakan diatas, sudah pasti Anda dapat menilai dengan all out secara reasonable masing-masing intermediary properti. Artikel ini saya tulis hanya sekedar untuk menyalurkan keluh kesah yang saya alami dan bukan untuk menjelekkan profesi sejenis atau orang lain. Dan mungkin bagi Anda yang merasa diri bahwa Anda seorang BT yang mungkin pernah bekerjasama atau ingin bekerjasama dengan saya tapi saya tolak… mohon maaf… karena alasan-alasan saya diatas serta pengalaman-pengalaman pahit saya dalam bersinergi dengan para BT yang membuat saya menjadi KAPOK. Mohon dimaklumi… .

Banyak merchant tradisional yang membuat pernyataan “transaksi properti tidak bisa dilakukan sendiri harus bersama-sama karena kita saling membutuhkan informasi”, bisa saja saya benarkan pernyataan tersebut. Tapi menurut pengalaman dan pengetahuan saya di bidang deals and promoting, jika Anda mengetahui konsep dari Sales and Marketing saya yakin 100% Anda akan bisa melakukan transaksi jual beli sewa properti sendiri seperti yang sudah saya alami berkali-kali. Dalam hal ini maksudnya adalah Anda sendiri sebagai Agen/Broker yang mendapatkan purchaser dan vender.

Apa si keuntungannya jika kita transaksi sendiri… ??? Yang jelas informasi yang kita dapatkan baik dari sisi purchaser maupun dealer sudah pasti VALID dan kita akan lebih mudah menganalisa apa kemauan purchaser maupun merchant sehingga kita dapat menjembatani transaksi dengan baik tanpa merugikan kepentingan kedua belah pihak. Cerita ini hanyalah secuil dari banyak cerita yang saya dapatkan dilapangan dan semoga teman-teman BT dapat bekerja lebih maksimal sehingga tidak membuat client (konsumen) serta sesama teman representative menjadi kecewa.

Semoga tulisan saya kali ini dapat membuat kita semua menjadi saling mengerti dan bisa memahami satu sama lainnya agar tidak ada yang dirugikan dalam sebuah kerjasama